Membangun Negeri Dengan Literasi

Oleh: Moh. Toyyib*

Bukan tidak ingin bersyukur berada di bumi yang gemah Ripah loh jinawi ini, sekolah dengan nyaman dan ibadah dengan aman. Kita flashback sedikit pada sejarah, di mana Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, disitu juga negara jepang mengalami serangan sekutu, bom di mana-mana, mayat berjatuhan, pendidikan runtuh, ekonomi hancur.

Tapi sekarang, jepang secara kualitas pendidikan, ekonomi, tekhnologi jauh sangat dibandingkan negara kita. Kelirunya dimana? Pasti jawabnya kelalaian pemerintah.

Bukan guys, kesalahan fatalnya ada di kita. Ilmu pengetahuan mustahil akan tampil ke permukaan tanpa adanya budaya literasi. Dengan membaca, anak bangsa akan menelaah dan menganalisa sehingga akan memunculkan ragam inovasi dan kreativitasnya.

Tapi jika dunia leterasi lemah dalam satu negara, maka kemajuan dalam segala sektor tidak akan pernah terwujudkan. Dalam Bukunya Haidar Musyafa yang berjudul Muslim Visioner dijelaskan bahwa di muka bumi ini terbit antara empat ribu hingga lima ribu judul buku. Dan minat baca anak bangsa hanya 0,0009 sangat jauh dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 17,999.

Ini menandakan minat baca sangat lemah dan melemahkan negeri yang sudah 78 usianya.Untuk bisa mewujudkan kecerdasan anak bangsa maka yang harus berperan penting adalah sosok seorang Ustad/Guru. Peran penting seorang guru inilah yang nantinya akan membangun dunia peradaban kemajuan suatu bangsa.

Sebagaimana ketika Bom atom miliki sekutu memporak porandakan kota Hiroshima dan Nagasaki berkeping-keping. Ada pertanyaan penting dari sang kaisar yang menjabat waktu itu. Sang kaisar tidak menanyakan berapa jenderal dan prajurit yang masih hidup, yang menurut logika akan menyerang kembali. Akan tetapi sang kaisar menanyakan berapa guru yang masih hidup di jepang.

Sang kaisar beralasan seorang guru harus lebih diperhatikan dari pada jenderal, karena seorang guru merupakan tiang-tiang penyangga suatu bangsa. Gurulah yang akan melahirkan bibit unggul harapan bangsa di masa-masa mendatang.

Hal ini selaras dengan yang menimpa Kota Baghdad pada tahun 1258 dikepung pasukan tartar. Dimana pada masa ini hidup seoarang ulama’ besar yang bernama lengkap Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H.

Waktu beliau diajak untuk berperang melawan pasukan tartar, tapi lebih memilih mengasingkan diri dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat kala itu. Karena Iman An-Nawawi tahu, jika kota² dihancurkan maka hanya butuh beberapa waktu untuk membangunnya kembali.

Tapi jika ilmu ummat yang hancur, maka membutuhkan sekian generasi untuk membangunnya kembali. Hal ini bukti nyata kalau peranan ilmu pengetahuan sangat menentukan kuatnya dan majunya suatu bangsa.

Majunya suatu negeri lahir dari pendidikan yang berkualitas, yakni minat baca dan menulis hingga mampu memberikan kontribusi yang nyata dengan ide-ide cemerlang. Jika budaya literasi sangat rendah, maka juga bisa dipastikan bangsa ini akan lemah.

Tapi jika minat baca, menelaah dan menganalisa terus mengakar pada anak bangsa hingga generasi-generasi selanjutnya, maka pengamat yang menyatakan Indonesia di tahun 2030 akan menjadi raksasa dalam bidang ekonomi dan sektor-sektor yang lain akan mudah terwujudkan. Aamiin

*Penulis adalah mahasiswa Prodi BPI angkatan 2017


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *