Dakwah Inovatif untuk Generasi Milenial

Oleh: Moh. Imron*

Era milenial dalam mengajarkan agama islam dapat dilakukan dimana dan kapan saja dengan berbagai cara. Masyarakat sekarang tidak hanya mengandalkan ulama sebagai sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan agama. Namun, masyarakat dapat memanfaatkan smartphone dan juga internet yang begitu canggih untuk memperoleh pengetahuan agama.

Generasi milenial adalah manusia yang lahir di antara tahun 1980 sampai 2000, yang identik dengan manusia yang memanfaatkan sepenuhnya teknologi dan media modern. Bahkan teknologi dan media modern bagi generasi milenial menjadi suatu kebutuhan dalam menjalani kehidupan. yang dapat dijadikan landasan dai generasi milenial, yaitu: dakwah bil hikmah, bilmauziah hasanah dan bilmujadalah. Dari ketiga landasan metode dakwah tersebut kini semakin berkembang seiring masuknya teknologi dan media moderen.

Berbeda dengan era agraris, peran ulama dan tokoh agama begitu kuat dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pendapat dan sikap mereka ditiru, didengar dan dilaksanakan oleh masyarakat. Masyarakat rela berangkat pengajian walaupun jaraknya begitu jauh, hanya karena cinta mereka terhadap para ulama dan juga ingin mendengarkan tausiyah yang dapat dijadikan pedoman hidup yang baik dan benar.

Perubahan masyarakat tersebut harus diimbangi dengan perubahan cara berdakwah yang dilakukan para dai. Dai harus memikirkan metode yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Dai tidak boleh hanya jalan ditempat dan menggunakan cara-cara yang konvensional saja (ceramah). Dakwah harus dinamais, progresif dan penuh inovasi.

Metode dakwah dapat diartikan sebagai jalan atau cara yang digunakan oleh da’i dalam menyampaikan dakwahnya kepada mad’u. Penggunaan metode yang benar merupakan unsur yang sangat penting dalam menunjang proses berhasilnya suatu kegiatan dakwah. Suatu materi dakwah yang cukup baik, ketika disajikan tidak didukung dengan metode yang tepat tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Metode yang digunakan harus mampu menyesuaikan dengan sasaran dakwah.

Zaman milenial yang ditandai dengan perkembangan yang pesat, maka dakwah tidak cukup hanya dilakukan dengan lisan saja melainkan mesti didukung dengan metode lain yang mampu menjadi penghubung antara komunikator dan komunikan dengan jangkauan yang lebih luas.

Di Indonesia banyak ulama yang mengajarkan agama islam dengan metode yang berbeda-beda. Di era milenial ini seorang da’i harus memikirkan metode yang pas untuk menyampaikan pesan dakwahnya. Maka perlu adanya pembahasan mengenai metode penyampaian dakwah yang sesuai dengan generasi milenial. Untuk menghindari terjadinya kesamaan penelitian yang telah ada sebelumnya, maka penyusun melakukan penelusuran terhadap penelitianpenelitian yang sudah ada sebelumnya, diantaranya menyampaikan dengan cara yang dapat diterima masyarakat dan dapat difahami masyarakat sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) masyarakat.

Sekarang, dakwah dihadapkan pada kemajuan teknologi informasi dan media modern. Teknologi semakin membuat manusia lalai terhadap ajaran islam. kebiasaan duduk berlama-lama di depan televisi, pemakaian internet yang terlalu lama sehingga pelaksanaan shalat diakhir waktu, bahkan ada yang meninggalkan shalat menjadi fenomena baru yang perlu segera mendapat perhatian dari para da’i. Hal tersebut merupakan suatu fenomena praktik keagamaan masyarakat yang membutuhkan pemikiran baru mengenai konsep pelaksaan dakwah dengan tetap berpedoman terhadap esensi ajaran Islam.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI Angkatan 2021

Eksistensi Dakwah sebagai Pusat Kajian Dalam Mengemban Tugas Kemanusiaan

Oleh; Habibur Rahman*

Dalam dinamika kehidupan yang berjalan elastis serta penuh pertanggungjawaban tentu tidak akan pernah lepas dari hukum alam yang berlaku, berjalan dengan semestinya bergerak semampunya (memberi manfaat).

Seyogyanya dalam sejarah perjalanan hidup manusia akan selalu bersentuhan dengan yang namanya problematika dari berbagai bidang dan sudut pandang. Barulah kematangan berfikir dan kemampuan dalam mengambil peran guna memunculkan ide maupun gagasan sebagai jalan keluar sangat dibutuhkan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dari apa yang terjadi pesan-pesan dakwah haruslah mampu mengisi titik-titik celah dari yang sifatnya besar hingga terkecil sekalipun. Artinya, seseorang yang mulai jenuh hingga frustasi dengan lika-liku kehidupan yang dialami, disitulah dakwah berfungsi sebagai asupan dengan model pencerahan untuk membantu menemukan jalan keluar.

Dalam beberapa kajian, jika ditarik kesimpulan. Dakwah memiliki tujuan sebagai berikut:

1) Memberikan ruang sosialisasi diri dan aktualisasi diri.
2) Memberikan tuntunan keagamaan dalam mengarungi kehidupan.
3) Memberikan sentuhan spiritual terhadap nurani seseorang yang tengah dilanda penyakit kegersangan spiritual, pemikiran yang sekular, kehidupan yang hedonis, sehingga menjadi kepribadian yang hanif.
4) Menumbuhkan soliditas dan solidaritas sebagai wujud Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariah, dan Ukhuwah Wathaniyah.

Dari pemaparan diatas, sangat jelas sekali. Fungsi dakwah selain memang menuntun pada jalan kebaikan untuk menuju keridhoan rabb-nya, juga bertujuan untuk membentuk masyarakat yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan di muka bumi. Tentu tanpa adanya diskriminasi dan ekploitasi, saling tolong-menolong, juga saling menghormati.

Dengan demikian, keseluruhan umat manusia dapat menikmati kesejahteraan, keadilan, juga kebahagiaan di dunia terlebih di akhirat kelak. Sehingga tercapailah cita-cita Islam sebagai rahmat bagi alam semesta atau yg sering kita sebut dengan Islam Rahmatan Li Al-alamin yang berlandaskan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya: 107)

Cerminan ayat diatas telah kita ketahui dalam banyak sejarah bagaimana metode Walisongo memurnikan tauhid tanpa menyakiti, menegakkan syariat tanpa mencelakai, memberi suri tauladan sebelum mengajarkan, mendahulukan tatakrama sebelum bertutur kata, tetap membumi meski berderajat mulia, tidak semena-mena dan berkepribadian welas asih pada sesama adalah beberapa kunci kesuksesan Wali Songo dalam meng-Islamkan Nusantara. Bahkan Wali Songo secara tegas meninggalkan hal-hal yang tidak disukai oleh para Pribumi.

Ketahuilah..! Bahwa Derajat Agung butuh proses panjang, butuh pengalaman dan pemikiran matang. Jangan sebab serakah memburu pengikut dan mengharap sanjungan malah mempermalukan diri sendiri, dampaknya nanti kamu bisa ditertawakan oleh banyak orang.

Hal itu merupakan suatu gambaran real di masyarakat, bahwa segala sesuatu yang tidak sebenar-benarnya, dalam arti hanya direkayasa, sebatas kepintaran kata-kata, akhirnya tidak bermanfaat dan penuh kesia-siaan belaka.

*Penulis adalah Alumni Prodi BPI

Perubahan Zaman dan Urgensi Media Dakwah

Oleh; Sofwatur Rohman*

Islam merupakan agama yang universal. Karakteristik ajarannya tidak hanya untuk lokal, tetapi bermuara global, lintas wilayah, bangsa, suku, dan ras. Sebagai agama samawi, perkembangannya mengalami pergerakan yang cukup pesat. Islam telah hadir di berbagai belahan bumi di seantero dunia. Berbagai jalur cara agama ini hadir di suatu kawasan. Sesuai dengan fitrah dan aktivitas manusia. Bisa melalui jalur ekonomi dan perdagangan, budaya, politik, dan sosial.
Setiap orang yang telah suka rela menyatakan diri bersyahadat disebut muslim. Sejak itu pula diberikan hak untuk menyampaikan ajaran yang diyakini itu kepada orang lain, keluarga, kawan, kerabat, dan handai tolan, walaupun yang disampaikan hanya satu patah kata yang berisi tentang kebaikan. Yang demikian itu diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Secara umum, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa mengajak ke jalan kebaikan dan mencegah dari perilaku yang buruk. Amar ma’ruf nahi mungkar. ”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS Al-Asr: 3).
Dengan semangat motivasi untuk berbuat dan mengajak kepada jalan Allah itulah, setiap muslim berusaha untuk mengamalkan ajaran tersebut di setiap tempat dan dalam kesempatan apa pun. Meski demikian, tidak semua orang memiliki keahlian dalam mensyiarkan dakwah Islam. Harus ada sebagian masyarakat yang spesifik mempelajari agama dengan mendalam dan mampu menyampaikan dengan baik. Untuk itu, perlu belajar dan kedalaman ilmu, baik secara materi keislaman dan strategi, metode, serta teknik cara penyampaian. Perintah itu ditegaskan
Untuk mengajak ke jalan kebaikan dan mengajak ke jalan Allah itu, Al-Qur’an juga memberikan pedoman. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara-cara yang bijaksana, hati yang bersih, serta memperhatikan situasi dan kondisi. Selain itu, didasari etika yang baik. Secara teknis, disebutkan bahwa ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka melalui cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (QS An-Nahl: 125).
Dari ayat tersebut, tampak bahwa penyampaian dakwah itu perlu menggunakan berbagai metode, teknik, dan media agar tujuan dakwah dapat sampai ke masyarakat. Semua metode dakwah yang digunakan diperlukan media agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat secara tepat. Media yang digunakan disesuaikan dengan sasaran dakwah dan perkembangan zaman. Para nabi utusan Allah dalam berdakwah juga menggunakan media, walaupun hanya berupa media yang melekat pada dirinya, seperti lisan dan bahasa isyarat.
Peradaban umat manusia makin berkembang, Selayaknya direspon dengan tersedianya media dakwah yang mampu menyesuaikan diri. Di era ini, para pelaku dakwah dan para pelaku dakwah mesti punya semangat yang tinggi, kreativitas yang lebih produktif, dan berperan lebih aktif dalam penguasaan platform digital. Hal itu dimaksudkan agar penyebaran nilai-nilai Islam lebih terasa dan menyentuh berbagai kalangan masyarakat.
Saat ini, penggunakan YouTube, Facebook, Blog, WhatsApp, TikTok, dan Twitter sebagai media dakwah untuk mencapai tujuan dakwah merupakan suatu keharusan. Pasalnya, era globalisasi menuntut optimalisasi sumber daya secara maksimal. Demikian pula, ragam konten yang tidak beraturan dalam berbagai platform digital harus diimbangi dengan sisipan positif yang bermuatan nilai-nilai ke-Islaman yang mu’tabar.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI angkatan 2022

Prinsip Moderasi Beragama sebagai Penyeimbang Aktualisasi Dakwah

Oleh; Habibur Rahman

Sebagai tugas mulia manusia yang posisinya sebagai Khalifah dimuka bumi sangat perlu untuk selalu berbenah dalam melaksanakan perintah untuk selalu tolong menolong dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran dalam menghadapi segala situasi yang terjadi.

Lebih tepatnya lagi, para da’i sebagai juru dakwah dipandang perlu dalam memposisikan diri dan senantiasa menggaungkan prinsip moderasi Beragama sebagai modal utama menghadapi perbedaan suku, ras, budaya, dan agama.

Hal ini dimaksudkan agar terciptanya Islam yang rahmatan Lil Alamin dengan berpegang teguh pada prinsip Ahlussunah Wal Jama’ah yang telah menjadi warisan Asaabiqunal Asswalun.

Sehingga terdapat beberapa ketentuan untuk tetap memelihara nilai-nilai tersebut, yang diantaranya harus mengedepankan sikap maupun sifat; tawassut, tawazun, tasamuh, dan ta’adzul.

Tawassut artinya; da’i harus tidak condong kanan maupun kiri dalam menghadapi situasi yang berpotensi melahirkan perpecahan antar sesama serta tidak apriori dalam menerima dan menolak terhadap budaya yang berkembang dimasyarakat. Dimana arti sebuah persaudaraan adalah tujuan utama terciptanya keharmonisan ditengah masyarakat.

Tawazun maksudnya; da’i harus seimbang dalam menggunakan dalil Aqli maupun Naqli, sehingga disatu sisi tidak menjadi keberatan akan pesan yang disampaikan, begitu Pula tidak terkesan terlalu sepele dalam proses aktualisasi nilai-nilai yang disampaikan. Gamblangnya menghidari ekstremisme maupun liberalisme. Dengan demikian dapat terhindar betul dari gaya lama kaum khawarij yang sama sekali tidak ber-prikemanuasian, dan tentu sangat tidak elok jika dihidupkan kembali ditengah-tengah masyarakat.

Adapun diantara ciri Khawarij adalah:

a. Mudah mengkafirkan orang yang tidak sefaham dengan mereka sekalipun penganut Islam.

b. Islam yang benar adalah seperti yang mereka pahami dan amalkan sedangkan yang lain dianggap salah.

c. Orang Islam yang dianggap tidak sepaham harus dijadikan sepaham dan pemerintah yang tidak sepaham harus diganti.

d. Bersifat fanatik, menggunakan kekerasan dan tidak segan membunuh.

Tasamuh dalam arti, da’i dituntut untuk saling menerima akan saran dan kritikan dari masyarakat serta membangun kebiasaan saling memaafkan atau disebut juga saling toleransi, maksudnya sikap lapang dada, mengerti dan menghargai sikap pendirian dan kepentingan pihak lain tanpa mengorbankan pendirian dan harga diri. Dengan demikian tidak menafikan arti sebuah feedback yang tentu juga sangat membangun akan kreativitas dakwah tentu juga sebagai bahan evaluasi bagi da’i.

Ta’adzul, berprilaku adil serta tidak berpihak antara yang satu dengan yang lain dengan semangat menyuarakan yang benar. Sikap ini harus dibiasakan dimana seorang da’i  harus berlatih dan membiasakan diri bersikap netral dalam segala hal dan adil  dalam menghadapi masalah yang terjadi, sehingga mencapai kriteria da’i yang berbudi luhur dan betul-betul menjadi tauladan (uswah) bagi masyarakat secara umum.

*Penulis Adalah Mahasiswa BPI Angkatan 2016

DIALEKTIS ANTARA BERLIMU DAN BERAKHLAK

Oleh: Hafiyullah*


Dimana kita tinggal,ilmu dan akhlak merupakan suatau prioritas utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanpa ilmu, kehidupan kita seolah tidak memiliki arah dan tujuan hidup yang tepat. Tanpa akhlak pula, jati diri serta kepribadian kita dianggap rendah.

Ilmu dan akhlak yang baik harus kita memiliki agar bisa menjadi seseorang yang berwawasan luas dan disegani. Namun di antara dua hal tersebut, tentu harus ada yang menggunakan maskipun keduanya sama-sama penting.


Jawabanya tentu adalah akhlak. Mengapa akhlak dikatakan harus lebih utama dibanding ilmu? padahal jika kita lihat secara gemblang, orang yang memiliki ilmu tinggi cendrung dipandang hebat oleh khalayak, bahkan tidak jarang bagi orang yang berilmu dihormati karena ia memiliki pengatahuan yang sangat luas.

Ya, itu karena akhlak merupakan sesuatu yang mahal dan menjadi prioritas utama untuk menjadi orang yang dihargai. Akhlak bernilai mahal karena tidak semua orang bisa memilki akhlak yang baik, baik tidak berilmu ataupun yang berilmu.


Seseorang bisa dikatakan memilki akhlak yang baik jika ia bisa menghargai sesama dan tidak pernah menyombongkan diri terlebih lagi dengan ilmu yang ia miliki. Lantas bagaimana dengan orang yang berilmu namun memilki prilaku yang kurang baik?, setinggi-tingginya ilmu, tentu akan percuma jika ahklak yang ia milki sangatlah rendah. Dengan adanya ilmu yang ia miliki, tak jarang membuat dirinya angkuh dan tidak ada rasa hormat kepada orang lain, maskipun mungkin ia tidak sadar akan hal itu.


Hal semacam ini harus menjadi perhatian semua orang. Para penuntut ilmu pada masa-masa terdahulu, mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari akhlak terlebih dahulu dibanding ilmu, mereka sangat mengedepankan akhlak dari pada ilmu pengathuan.


Dalam pandangan agama, kita diwajibkan untuk berilmu dan berakhlak baik. Keduanya tentu saja harus menjadi suatu kesatuan yang kongkrit. Ilmu tanpa akhlak bagaikan tumbuhan tanpa akar yang tidak menopang, hasilnya tidak dapat mengalirkan udara sebagai kebutuhan utama. Jadi ilmu pengetahuan tidak didasarkan pada akhlak, maka semuanya tidak akan layak dan sia-sia,
Ilmu yang tinggi tidak menjaminkan diri kita menjadi orang yang luar bisa, namun sebaliknya tidak jarang, meskipun kita hina dalam sudut pandang pengetahuan, tetapi sebab akhlak yang kita miliki, maka disitulah kita akan mendapat label sebagai suatu yang layak dan bermartabat dimata orang lain, sehingga disitulah kehidupan kita menjadi tentram dan nyaman.


perhatian, sebagai manusia kita harus memperhatikan dimana kita hidup dan dengan siapa pun kita berinteraksi. Sebab, sebagaimana sebagaimana pepatah mengingatkan, ‘dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung’. Hal tersebut tidak bersifat mutlak, namun penting untuk menjadi atensi tersendiri bagi kita yang orientasi hidupnya masih bersifat manusiawi.

*Penulis adalah mahasiswa BPI angkatan 2021

Kriteria Pendakwah Sukses

Oleh: Lutfanza Hidayat

Setiap gerak gerik tubuh kita yang berpotensi memiliki nilai positif, atau bahkan sekalipun tubuh kita diam yang disertai dengan baiknya niat dapat bernilai sebagai kegiatan dakwah. Dalam berdakwah seorang da’i tentunya mempunyai keinginan agar apa yang disampaikan dapat diterima secara baik oleh mad’u, dengan tujuan agar si da’i depat “memindahkan” mad’u dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik, baik itu kondisi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, maupun yang lainnya. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, tentunya si da’i harus memenuhi kriteria tertentu yang akan menunjang keberhasilannya dalam berdakwah. Adapun diantara kriteria tersebut adalah:

Pertama; Da’i harus mempunyai kepandaian dan kecerdasan yang lebih dari pada si mad’u. Hal ini bertujuan agar si da’i dapat mengontrol dirinya sendri dan juga agar apa yang didakwahkan dapat tersampaikan dengan baik serta dalam rangka kaitannya dengan dakwah itu sendiri.

Kedua; Kehati-hatian dan kecermatan da’i. Sikap hati-hati harus dimiliki oleh kaum muslimin terutama seorang da’i, karena jika seorang da’i tidak berhati-hati dalam berdakwah, maka dikhawatirkan akan terjatuh pada kekeliruan dan keteledoran. Demikian pula sebaliknya, apabila seorang da’i bersikap hati-hati dan waspada serta selalu menjaga berbagai kemungkinan-kemungkinan, hingga mereka yang bermaksud jahat tidak melakukan tipu daya, maka ia akan dapat mengatur dan melaksakan programnya dengan baik.

Ketiga; Menyusun program, karena setiap aktivitas yang tidak direncanakan terlebih dahulu, baik mengenai jenisnya, jangkauannya, tingkat pencapainya maupun jangka waktunya, maka akan lebih sering mengalami kegagalan khususnya dalam berdakwah. Tentu, jika di dalam berdakwah sudah menyusun planning secara matang, maka kegagalan tersebut dapat dihindari.

Keempat: Melindungi dakwah melalui orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Pasalnya, jika seseorang berdakwah dilindungi oleh orang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan, maka akan lebih mudah bagi si da’i dalam menjalankan misinya. Hal ini pernah terjadi kepada Rasulullah SAW. Suatu ketika rasulullah pergi ke Thaif untuk berdakwah, namun dakwah Rasulullah ditolak oleh penduduk Thaif. Akhimya Rasulullah kembali ke makkah di bawah perlindungan Al-Muth’im bin Adi yang masih musyrik. Hal ini di perbolehkan dalam berdakwali dengan bernaung di bawah orang yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan, selagi tidak memalingkan tujuan dakwah, syarat dan adab-adabnya:

Kelima; melaksakan kegiatan dakwah sesuai dengan uslub dan aturannya. Karena dakwah ibarat kehidupan kita sehari-hari, selama kita hidup di dunia pasti harus mengikuti peraturan, baik seorang muslim terhadap Rabb-Nya, terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya, terhadap semua manusia, bahkan terhadap makhluk halus pun memiliki aturan permainannya yang di tetapkan oleh syariat Islam.

*penulis adalah Mahasiswa prodi MD angkatan 2021

Akhlaq Sebagai Tonggak Peradaban

Oleh: Mughis

Agama Islam tentunya menginginkan setiap manusia memiliki akhlaq yang mulia. Adanya akhlaq yang mulia ini sangat ditekankan karena di samping akan membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi manusia pada umumnya. Dengan kata lain, akhlaq menjadi bagian yang utama ketika ditampilkan seseorang, dengan tujuanya adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana misi Rosululloh SAW. yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq.

Para pakar pendidikan Islam berpendapat, tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlaq. Demikian juga dengan apa yang disampaikan Muhammad Athiyah Al-Abrasy pembinaan akhlaq dalam Islam adalah untuk membentuk orang-orang yang bermoral baik, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku, bersifat bijaksana, sopan dan beradab. Bahkan, jiwa dari pendidikan Islam adalah pembinaan moral atau akhlaq.

Sedangkan Ahmad Amin, menjelaskan tujuan pendidikan akhlaq (etika) bukan hanya mengetahui pandangan atau teori, bahkan setengah dari tujuan itu adalah mempengaruhi dan mendorong kehendak kita supaya membentuk hidup suci dan menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan dan memberi faedah kepada sesama.

Akhlaq yang baik akan mengantarkan kita pada keseimbangan hidup, baik sebagai sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta. Pun demikian sebaliknya, akhlaq yang jelek hanya akan mengantarkan pada kesengsaraan hidup yang tak berujung.

Bagaimanapun, akhlaq adalah tonggak kehidupan. Apapun yang hendak kita capai, akhlaq adalah pintu masuk paling ideal. Se jelek apapun orang yang kita hadapi, pasti akan luluh dengan perangai baik yang kita tunjukkan. Sebagaimana Rasululloh SAW telah membuktikan tatkala beliau tetap berprilaku baik terhadap orang-orang kafir Quraisy yang terus menganiaya beliau dan sahabat-sahabatnya.

Hasilnya jelas, fathu Mekkah adalah bukti kongkrit betapa perangai baik pada akhirnya akan membawa pada keberhasilan, dunia dan akhirat. Karena pada dasarnya, “manusia adalah budak kebaikan’. Artinya, siapapun yang bisa berprilaku baik, pasti akan menjadi pengusasa dunia, cepat ataupun lambat. Dengan demikian, secara hakikat, akhlaq merupakan tonggak dari peradaban.

Wallahu a’lam…

* Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI angkatan 2020

Mengejawantahkan Teori Behavioralisme dalam Bingkai Kehidupan

Oleh: Farid Wahyudi*

Bertingkah laku serta bermuamalah dengan sesama manusia perlu dengan kesadaran agar hubungan stimulus dan respon menjadi kuat. Itulah aturan main teori behavioralisme yang paling di utamakan dalam menjaga tingkah laku agar tidak menyalahi aturan yang berlaku. Misalnya sholat, jika semua prilaku atau hal-hal yang berkenaan dalam sholat itu benar maka otomatis orang tersebut bisa di katakan baik sholatnya.

Seperti syairnya Imam Asy-syahid Nasyiruddin, memelihara tingkah laku itu wajib. Seperti ahklak bermasyarakat dan ahklak berteman dan juga ahlak berbicara.

Ingatlah! Berhati-hatilah dalam memilih akhlak dalam berteman dan berbicara dan carilah teman yang tekun belajar, bersifat wara’, dan berwatak istikomah. Pasalnya, jiwa manusia itu adalah kekuatan ilahi yang bukan hanya jasmani, tetapi berhubungan erat dengan rahasia Ilahi yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

Maka wajib diketahui bahwa rohani selalu berkait dengan jasmani begitu juga sebaliknya. Berubah jasmani atau sakitnya rohani maka sakitlah puka jasmani. Hal itu dapat kita buktikan dengan nyata.

Kita dapat melihat orang yang sakit badanya apalagi akalnya. Sehingga otaknya diingkari, serta pikiran, khayalan, dan demikian juga nyawanya. Hendaklah bergaul dengan orang yang mempuyai keinginan yang sama bukan dengan mereka yang berbeda keyakinan.

Coba kita perhatikan seseorang yang pernah sakit jiwanya, baik karena sangat marah atau karena sangat sedih, atau karena jatuh cinta disertai rindu yang dipendam. Kadang mereka butuh bimbingan untuk mengembalikan jiwanya sebagaimana fitrah yang telah digariskan oleh Tuhannya.

Memperhatikan diri dan lingkungan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kehidupan yang seimbang antara tuntutan jasmani dan rohani dan panggilan ilahi.

*Penulis adalah Mahasiswa BPI IV

Urgensi Klarifikasi di Era Medsos

Oleh: Moh. Toyyib*

Keberadaan media sosial banyak sekali memberikan manfaat dan kemudahan bagi para penggunanya. Namun, juga harus netizen sadari, bahwa media sosial juga jerat-jerat yang sangat berbahaya. Orang bodoh pastilah terangkap. Adapun orang yang cerdas akan selalu membentengi dirinya dengan Ilmu pengetahuan. Wajiblah bagi orang yang bermedsos untuk selalu sadar akibat yang akan terjadi jika menyalahgunakannya.

Dewasa ini banyak sekali di media sosial berita-berita yang tidak sesuai realita. Jadinya hoax yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kode etiknya dalam membuat berita atau tulisan adalah, harus jujur, tidak boleh mengurangi atau menambah substansi dari tulisan yang, karena sering ditemukan banyak isi yang disampaikan berbeda dengan konteks yang sebenarnya, maknanyapun juga salah.

Sayyidina Ali pernah berkata, “Semua penulis akan mati. Hanya mahakarya yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Tulislah sesuatu yang memuat tentang kebaikan serta tersampaikan kepada setiap orang, dibaca dan diamalkan. Akan menjadi catatan amal bagi Penulisnya. Tapi sebaliknya, apabila isi tulisan berisi tentang kejelekan, hinaan, cacian, maka yang didapat hanyalah dosa.

Karena itulah Netizen +62 harus lebih memperhatikan tulisan yang benar-benar ada di sini, bukan menyebarkan berita bohong. Dan jika masih belum jelas, hendaklah Tabayyun atau klarifikasi terlebih dahulu, agar tidak tergolong orang yang membantu dalam hal kejelekan.

Pentingnya klarifikasi di era medsos, karena banyak tulisan yang memang semuanya tidak benar dan akurat. Alloh memerintahkan hambanya untuk tabayyun, yakni melakukan verifikasi, check and recheck, teliti kembali informasi tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Firman-Nya Suroh Al Hujurot Ayat 6 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ


Artinya: Hai orang-orang yang percaya, jika datang seorang yang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu kejadian suatu kejadian pada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atasmu itu.

Seperti yang dianalogikan oleh Gus Nadirsyah Hosen, “Jika di kerumunan pasar tiba-tiba ada yang berteriak “Copeeet” sambil menunjuk ke arah anda, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Kerumunan langsung menghakimi anda, tanpa sempat lagi melakukan verifikasi: benarkah anda copetnya, atau yang lebih krusial lagi, benarkah dompet ibu di sebelah anda itu hilang karena dicopet atau memang ibu ini dompetnya ketinggalan di rumah?

Sayangnya skenario di atas juga terjadi di media sosial. Meski menggunakan Smartphone , tetapi pada hakikatnya tidak lebih dari kerumunan di media sosial yang bersikap reaktif tanpa sempat Tabayyun terlebih dahulu sebelum bereaksi yang dampaknya dapat merugikan orang lain.

Lebih dari 69,2 juta pengguna aktif Instagram, 52,4 juta Twitter serta 140 juta juta pengguna aktif Facebook ketika sekali pencet di layar smartphone tentang tulisan yang mengandung Mudhorot, maka sejumlah ajaran Nabi dilanggar seketika: harus tabayun, jangan ghibah, jangan mencari-cari kesalahan saudaramu, membuka aib diri sendiri dan orang lain yang dapat merusak kehormatan.

Terkadang seseorang lebih gampang mempercayai sesuatu yang belum pasti. Kalau ada berita yang sesuai keinginannya sendiri dan kelompok tertentu, tanpa pikir dua kali langsung shere di akun pribadinya, sesuai kesenangan hati. Jadi yang penting, bukan tentang benar atau tidaknya suatu berita, melainkan apakah kita senang atau tidak dengan isi berita yang diangkat.

Tabayyun harus menjadi pedoman paten bagi ummat muslim, khususnya di era sosmed seperti sekarang ini, karena banyak disaksikan perselisihan terjadi disebabkan salah dalam memahami informasi atau klarifikasi dari tulisan-tulisan yang tidak bertanggung jawab. Jika seseorang tidak memverifikasi, mengklarifikasi dan meneliti berita atau tulisan-tulisan lainnya, lalu juga ikut menyebarluaskannya kepada orang lain, dikhawatirkan akan menimpakan kecelakaan kepada orang lain, karena sebab keteledoran tidak tabayyun terlebih dahulu.

*Penulis adalah Alumni Prodi BPI angkatan 2019

Hilangkan Lelah, Meraih Berkah

Oleh: Fairuz Abadi*

Salah seorang santri senior tertidur pulas di pojok masjid sambil mendekap kitab didadanya. Dia ketiduran setelah mentelaah ulang hasil pelajaran yang diberikan ustad di kelas tadi siang, tidurnya sangat nyenyak jika didengar dari bunyi dengkurnya yang agak keras. Serasa tanpa beban ia melepas semua lelahnya dengan begitu nikmat, lelahnya karna sibuk mengikuti semua kegiatan yang ada di pesantren sejak pagi.

Nikmat tidurnya itu mungkin akan membuat iri para anak muda putra bangsawan diluar sana yang istirahatnya di penginapan hotel-hotel berbintang namun dihantui oleh berbagai permasalahan. Atau bahkan membuat iri para anak sultan yang tinggal di keramaian pusat ibu kota sehingga harus mengkonsumsi obat tidur untuk sekedar melelapkan mata. Kenikmatan itu juga belum tentu dimiliki para pemangku harta, apakah mungkin ia bisa terlelap dengan rasa nyaman sedangkan hati dan otak dipenuhi dengan rasa gundah gulana memikirkan bagaimana jika nanti malam terjadi sebuah perampokan dirumahnya.

Tidur memang teramat nikmat, karna dengannya kita bisa rehat, untuk menghilangkan segala penat. Membuang semua rasa lelah dan resah dengan harapan bangunnya kembali berstamina menjalankan kehidupan dengan niat lillah.

Bahkan Alloh SWT. memberi toleransi pada mereka yang terlelap sampai meninggalkan kewajiban. Dalam riwayat Tirmidzi, Rasululloh bersabda; “Telah diangkat pena dari tiga golongan” (maksudnya tidak dicatat segala dosa-dosanya). Sahabat bertanya; “Siapakah tiga golongan tersebut?”. Rosul melanjutkan; “1) Orang gila sampai ia sadar. 2) Orang tidur sampai ia bangun, dan 3) Anak kecil sampai ia baligh”.

Sholat itu wajib bagi siapapun dan dalam kondisi apapun selagi dia masih bernyawa. Saking wajibnya sholat Alloh memberi banyak toleran bagi mereka yang berhalangan, contohnya seperti orang sakit. Jika tidak bisa sholat berdiri, maka tetap wajib sholat dengan cara sholat duduk. Tidak mampu sholat duduk, maka dengan cara sholat berbaring. Jika dalam kondisi berbaring tetap tidak bisa melakukan gerakan-gerakan sholat, maka sholat dengan cara isyaroh.

Namun daripada itu jika seseorang tidak melaksanakan kewajiban sholat sebab terlelap tidur sampai melebihi waktu sholat, Alloh tidak menuliskannya sebagai dosa sebab meniggalkan kewajiban. Ia hanya mewajibkan untuk menggantinya saja.

Karena tidur itu nikmat, setidaknya kita harus berusaha supaya tidur itu berkualitas dan bernilai ibadah. Bagaimana cara supaya tidur kita berkualitas? yaitu dengan cara memperhatikan adab-adabnya. Diantara adab tidur yang diajarkan oleh Rosululloh sebagai sunnahnya antara lain;

1. Mematikan lampu sebelum tidur.

2. Berwhudu sebelum tidur, diantara hikmahnya adalah supaya kita tidur dalam keadaan suci baik diri maupun hati.

3. Membersihkan tempat tidur terlebih dahulu.

4. Memiringkan badan kearah kanan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan.

5. Berdo’a. Dengan pola tidur yang diajarkan islam melalui Rosululloh dengan cara kita mengamalkannya, selain menghilangkan lelah juga memberi banyak berkah.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi PBI angkatan 2020