January 2023 - Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam
Dakwah Inovatif untuk Generasi Milenial

Oleh: Moh. Imron*

Era milenial dalam mengajarkan agama islam dapat dilakukan dimana dan kapan saja dengan berbagai cara. Masyarakat sekarang tidak hanya mengandalkan ulama sebagai sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan agama. Namun, masyarakat dapat memanfaatkan smartphone dan juga internet yang begitu canggih untuk memperoleh pengetahuan agama.

Generasi milenial adalah manusia yang lahir di antara tahun 1980 sampai 2000, yang identik dengan manusia yang memanfaatkan sepenuhnya teknologi dan media modern. Bahkan teknologi dan media modern bagi generasi milenial menjadi suatu kebutuhan dalam menjalani kehidupan. yang dapat dijadikan landasan dai generasi milenial, yaitu: dakwah bil hikmah, bilmauziah hasanah dan bilmujadalah. Dari ketiga landasan metode dakwah tersebut kini semakin berkembang seiring masuknya teknologi dan media moderen.

Berbeda dengan era agraris, peran ulama dan tokoh agama begitu kuat dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pendapat dan sikap mereka ditiru, didengar dan dilaksanakan oleh masyarakat. Masyarakat rela berangkat pengajian walaupun jaraknya begitu jauh, hanya karena cinta mereka terhadap para ulama dan juga ingin mendengarkan tausiyah yang dapat dijadikan pedoman hidup yang baik dan benar.

Perubahan masyarakat tersebut harus diimbangi dengan perubahan cara berdakwah yang dilakukan para dai. Dai harus memikirkan metode yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Dai tidak boleh hanya jalan ditempat dan menggunakan cara-cara yang konvensional saja (ceramah). Dakwah harus dinamais, progresif dan penuh inovasi.

Metode dakwah dapat diartikan sebagai jalan atau cara yang digunakan oleh da’i dalam menyampaikan dakwahnya kepada mad’u. Penggunaan metode yang benar merupakan unsur yang sangat penting dalam menunjang proses berhasilnya suatu kegiatan dakwah. Suatu materi dakwah yang cukup baik, ketika disajikan tidak didukung dengan metode yang tepat tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Metode yang digunakan harus mampu menyesuaikan dengan sasaran dakwah.

Zaman milenial yang ditandai dengan perkembangan yang pesat, maka dakwah tidak cukup hanya dilakukan dengan lisan saja melainkan mesti didukung dengan metode lain yang mampu menjadi penghubung antara komunikator dan komunikan dengan jangkauan yang lebih luas.

Di Indonesia banyak ulama yang mengajarkan agama islam dengan metode yang berbeda-beda. Di era milenial ini seorang da’i harus memikirkan metode yang pas untuk menyampaikan pesan dakwahnya. Maka perlu adanya pembahasan mengenai metode penyampaian dakwah yang sesuai dengan generasi milenial. Untuk menghindari terjadinya kesamaan penelitian yang telah ada sebelumnya, maka penyusun melakukan penelusuran terhadap penelitianpenelitian yang sudah ada sebelumnya, diantaranya menyampaikan dengan cara yang dapat diterima masyarakat dan dapat difahami masyarakat sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) masyarakat.

Sekarang, dakwah dihadapkan pada kemajuan teknologi informasi dan media modern. Teknologi semakin membuat manusia lalai terhadap ajaran islam. kebiasaan duduk berlama-lama di depan televisi, pemakaian internet yang terlalu lama sehingga pelaksanaan shalat diakhir waktu, bahkan ada yang meninggalkan shalat menjadi fenomena baru yang perlu segera mendapat perhatian dari para da’i. Hal tersebut merupakan suatu fenomena praktik keagamaan masyarakat yang membutuhkan pemikiran baru mengenai konsep pelaksaan dakwah dengan tetap berpedoman terhadap esensi ajaran Islam.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI Angkatan 2021

Eksistensi Dakwah sebagai Pusat Kajian Dalam Mengemban Tugas Kemanusiaan

Oleh; Habibur Rahman*

Dalam dinamika kehidupan yang berjalan elastis serta penuh pertanggungjawaban tentu tidak akan pernah lepas dari hukum alam yang berlaku, berjalan dengan semestinya bergerak semampunya (memberi manfaat).

Seyogyanya dalam sejarah perjalanan hidup manusia akan selalu bersentuhan dengan yang namanya problematika dari berbagai bidang dan sudut pandang. Barulah kematangan berfikir dan kemampuan dalam mengambil peran guna memunculkan ide maupun gagasan sebagai jalan keluar sangat dibutuhkan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dari apa yang terjadi pesan-pesan dakwah haruslah mampu mengisi titik-titik celah dari yang sifatnya besar hingga terkecil sekalipun. Artinya, seseorang yang mulai jenuh hingga frustasi dengan lika-liku kehidupan yang dialami, disitulah dakwah berfungsi sebagai asupan dengan model pencerahan untuk membantu menemukan jalan keluar.

Dalam beberapa kajian, jika ditarik kesimpulan. Dakwah memiliki tujuan sebagai berikut:

1) Memberikan ruang sosialisasi diri dan aktualisasi diri.
2) Memberikan tuntunan keagamaan dalam mengarungi kehidupan.
3) Memberikan sentuhan spiritual terhadap nurani seseorang yang tengah dilanda penyakit kegersangan spiritual, pemikiran yang sekular, kehidupan yang hedonis, sehingga menjadi kepribadian yang hanif.
4) Menumbuhkan soliditas dan solidaritas sebagai wujud Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariah, dan Ukhuwah Wathaniyah.

Dari pemaparan diatas, sangat jelas sekali. Fungsi dakwah selain memang menuntun pada jalan kebaikan untuk menuju keridhoan rabb-nya, juga bertujuan untuk membentuk masyarakat yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan di muka bumi. Tentu tanpa adanya diskriminasi dan ekploitasi, saling tolong-menolong, juga saling menghormati.

Dengan demikian, keseluruhan umat manusia dapat menikmati kesejahteraan, keadilan, juga kebahagiaan di dunia terlebih di akhirat kelak. Sehingga tercapailah cita-cita Islam sebagai rahmat bagi alam semesta atau yg sering kita sebut dengan Islam Rahmatan Li Al-alamin yang berlandaskan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya: 107)

Cerminan ayat diatas telah kita ketahui dalam banyak sejarah bagaimana metode Walisongo memurnikan tauhid tanpa menyakiti, menegakkan syariat tanpa mencelakai, memberi suri tauladan sebelum mengajarkan, mendahulukan tatakrama sebelum bertutur kata, tetap membumi meski berderajat mulia, tidak semena-mena dan berkepribadian welas asih pada sesama adalah beberapa kunci kesuksesan Wali Songo dalam meng-Islamkan Nusantara. Bahkan Wali Songo secara tegas meninggalkan hal-hal yang tidak disukai oleh para Pribumi.

Ketahuilah..! Bahwa Derajat Agung butuh proses panjang, butuh pengalaman dan pemikiran matang. Jangan sebab serakah memburu pengikut dan mengharap sanjungan malah mempermalukan diri sendiri, dampaknya nanti kamu bisa ditertawakan oleh banyak orang.

Hal itu merupakan suatu gambaran real di masyarakat, bahwa segala sesuatu yang tidak sebenar-benarnya, dalam arti hanya direkayasa, sebatas kepintaran kata-kata, akhirnya tidak bermanfaat dan penuh kesia-siaan belaka.

*Penulis adalah Alumni Prodi BPI

slot