Hilangkan Lelah, Meraih Berkah

Oleh: Fairuz Abadi*

Salah seorang santri senior tertidur pulas di pojok masjid sambil mendekap kitab didadanya. Dia ketiduran setelah mentelaah ulang hasil pelajaran yang diberikan ustad di kelas tadi siang, tidurnya sangat nyenyak jika didengar dari bunyi dengkurnya yang agak keras. Serasa tanpa beban ia melepas semua lelahnya dengan begitu nikmat, lelahnya karna sibuk mengikuti semua kegiatan yang ada di pesantren sejak pagi.

Nikmat tidurnya itu mungkin akan membuat iri para anak muda putra bangsawan diluar sana yang istirahatnya di penginapan hotel-hotel berbintang namun dihantui oleh berbagai permasalahan. Atau bahkan membuat iri para anak sultan yang tinggal di keramaian pusat ibu kota sehingga harus mengkonsumsi obat tidur untuk sekedar melelapkan mata. Kenikmatan itu juga belum tentu dimiliki para pemangku harta, apakah mungkin ia bisa terlelap dengan rasa nyaman sedangkan hati dan otak dipenuhi dengan rasa gundah gulana memikirkan bagaimana jika nanti malam terjadi sebuah perampokan dirumahnya.

Tidur memang teramat nikmat, karna dengannya kita bisa rehat, untuk menghilangkan segala penat. Membuang semua rasa lelah dan resah dengan harapan bangunnya kembali berstamina menjalankan kehidupan dengan niat lillah.

Bahkan Alloh SWT. memberi toleransi pada mereka yang terlelap sampai meninggalkan kewajiban. Dalam riwayat Tirmidzi, Rasululloh bersabda; “Telah diangkat pena dari tiga golongan” (maksudnya tidak dicatat segala dosa-dosanya). Sahabat bertanya; “Siapakah tiga golongan tersebut?”. Rosul melanjutkan; “1) Orang gila sampai ia sadar. 2) Orang tidur sampai ia bangun, dan 3) Anak kecil sampai ia baligh”.

Sholat itu wajib bagi siapapun dan dalam kondisi apapun selagi dia masih bernyawa. Saking wajibnya sholat Alloh memberi banyak toleran bagi mereka yang berhalangan, contohnya seperti orang sakit. Jika tidak bisa sholat berdiri, maka tetap wajib sholat dengan cara sholat duduk. Tidak mampu sholat duduk, maka dengan cara sholat berbaring. Jika dalam kondisi berbaring tetap tidak bisa melakukan gerakan-gerakan sholat, maka sholat dengan cara isyaroh.

Namun daripada itu jika seseorang tidak melaksanakan kewajiban sholat sebab terlelap tidur sampai melebihi waktu sholat, Alloh tidak menuliskannya sebagai dosa sebab meniggalkan kewajiban. Ia hanya mewajibkan untuk menggantinya saja.

Karena tidur itu nikmat, setidaknya kita harus berusaha supaya tidur itu berkualitas dan bernilai ibadah. Bagaimana cara supaya tidur kita berkualitas? yaitu dengan cara memperhatikan adab-adabnya. Diantara adab tidur yang diajarkan oleh Rosululloh sebagai sunnahnya antara lain;

1. Mematikan lampu sebelum tidur.

2. Berwhudu sebelum tidur, diantara hikmahnya adalah supaya kita tidur dalam keadaan suci baik diri maupun hati.

3. Membersihkan tempat tidur terlebih dahulu.

4. Memiringkan badan kearah kanan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan.

5. Berdo’a. Dengan pola tidur yang diajarkan islam melalui Rosululloh dengan cara kita mengamalkannya, selain menghilangkan lelah juga memberi banyak berkah.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi PBI angkatan 2020

Kausalitas antara Agama dan politik

Oleh: Miftahul Arifin*

Keterikatan antara agama dan politik akan selalu memuat suatu permasalahan pro dan kontra. Namun itu merupakan suatu yang biasa dalam kehidupan ini, karna tidak akan pernah sepi di manapun dan kapanpun, Mesir pun terlibat dalam masalah ini dan terdengar luas di negara tercinta ini, bahwa negara itu mempunyai pendapat sendiri.

Menanggapi hal tersebut, presiden Mesir berkata kalau agama itu bercampur dengan politik, maka politik rusak. Apabila sebaliknya, kalau politik bercampur dengan agama, maka agamanya yang akan rusak.

Tergambar jelas bahwa seakan-akan keduanya tidak mungkin bersatu atau bertolak belakang. Pasalnya, agama membawa seseorang ke dalam kebaikan dan kemaslahatan. Sedangkan politik cenderung digambarkan sebagai suatu yang lebih mengarah pada ending yang negatif. Pasalnya, politik lebih diidentikkan dengan pergulatan kekuasaan yang penuh dengan trik dan permainan kotor yang cenderung menghalalkan segala cara.

Ada suatu pertanyaan yang terbersit, apakah politik dan agama berjalan seiring seirama..?

Kita lihat bahwa sebenarnya politik itu tidak bertentangan dengan agama. Bahkan, dalam ajaran islam ada politik.

Berkata Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu:

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.” (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah)

Politik dalam pengertiannya adalah sebuah hikmah. Jadi, kita tidak bisa mengatakan islam tidak kenal politik, tetapi dalam kenyataannya itu sering kali bertentangan dengan ketentuan yang dinginkan oleh agama. Hal itulah yang akhirnya membuat orang-orang cenderung menempatkan politik di titik yang berseberangan dengan agama.

Padahal, seandainya politik didudukkan ditempat yang semestinya sebagaimana dicerminkan dalam prilaku para Sahabat Rosululloh SAW, tentu efek yang dihasilkan akan berbanding terbalik dengan persepsi masyarakat yang selama ini menjadi sekat pemisah untuk mencapai maslahah dengan menempatkan politik sesuai porsi yang digariskan oleh agama.

secara hakikat, kausalitas antara agama dan politik dapat berjalan beriringan manakala didasarkan pada ketulusan niat untuk mengejewantahkan dan napak tilas jejak kepemimpinan Rosululloh SAW dan para sahabatnya dalam memimpin umat.

Wallahu a’lam bisshowab

*Penulis adalah mahasiswa prodi BPI angkatan 2021

Teruslah “Bergerak” Untuk “Keseimbangan”

Oleh: Moh. Toyyib*

Jadilah orang hebat yang akan selalu mengukir prestasi dalam kehidupan ini. Jalani segala rutinitas sehari-hari dengan nuansa positif, karena hidup ini adalah perjuangan, bersabarlah dan berdamai atas kehendak Alloh. Tujuannya masih sangat jauh dan masih memerlukan tenaga yang lebih ekstra untuk cepat sampai.

Ketika Mark Zuckerberg ditanya tentang kunci keberhasilannya, dia menjawab “Selalu bergerak”, dia mengutip pernyataan Albert Einstein bahwa, “hidup itu seperti naik sepeda, untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus bergerak.”

Selaras dengan apa yang sudah pernah dialami oleh ulama-ulama salaf kita dulu, karena semangatnya bergerak, hingga menjadikan mereka sosok yang proaktif. Bergerak dalam hal ini masih umum, baik dari segi gerakan hati, pikiran dan fisik.  Seperti hijroh yang dilakukan oleh Sa’ad As Samman Ar Rozi seorang pakar hadits yang mengelilingi dunia belahan timur hingga dunia belahan barat dengan kedua kakinya, dan beliau juga memiliki Syekh sebanyak 3600 orang. Andaikan beliau tidak pernah menggerakkan hati, pikiran dan fisiknya, mungkin beliau tidak akan pernah dikenal orang sebagai ahli Hadist.

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Alloh SWT dengan indera dan organ tubuh yang lengkap, salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak. Kita sering kali menjumpai kutipan bahasa arab,

تحرك,فإن في الحركة بركة

Artinya, “Bergeraklah, sesungguhnya di dalam pergerakan itu terdapat berkah”. Pepatah ini selalu menggugah semangat orang yang mempunyai cita-cita tinggi untuk terus bergerak dalam hal yang produktif seperti yang dikerjakan oleh ulama-ulama salaf.

Sebenarnya kehidupan ini kalau diumpamakan seperti orang yang sedang lomba lari. Siapa yang geraknya kencang dan larinya tercepat, maka dia akan cepat sampai dan menjadi pemenang. Begitu juga dalam kehidupan manusia, yang gerakannya lebih cepat, maka cita-citanya akan cepat pula segera terwujudkan.

Yang penting jangan diam dan nganggur tidak produktif, selagi usia masih muda. Seperti yang diungkapkan oleh Imam As Sayuthi,

إن الشباب والفراغ والجدة مفسدة للمرء أي مفسدة

“Sesungguhnya masa muda, kekosongan, dan kekayaan adalah sumber kerusakan bagi seseorang”. Usia muda Sebagaimana yang sering dikatakan oleh para betari, “masa memperbanyak bekal untuk persiapan di hari tua, karena di usia lanjut seseorang semangatnya sudah berkurang, disebabkan sakit-sakitan.”

Oleh sebab itu, gunakanlah usia muda untuk bergerak menambah wawasan sebanyak-banyaknya seperti mencari ilmu, hikmah, berlomba dengan waktu, melawan rasa malas dan carilah bekal sebanyak-banyaknya. Sebelum semuanya terlambat, tidak akan berguna lagi penyesalan di kemudian hari. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Shaidul Khatir,

والمسكين كل المسكين من ضاع عمره في علم لم يعمل به

[ابن الجوزي ,صيد الخاطر ,page 159]

“Orang yang miskin dan benar-benar miskin adalah yang lenyap umurnya tanpa ada ilmu yang diamalkan. “

Mari terus semangat bergerak, terus produktif, jangan buang waktumu pada sesuatu yang Unfaedah. Jangan nganggur coy, karena waktumu sangat mahal.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI Angkatan 2017

LDK Fakultas Dakwah Kembali Gelar Workshop Penulisan Karya Ilmiah

PAMEKASAN – Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIMU) Pamekasan adakan Workshop Penulisan Artikel dan Karya Ilmiah, Rabu (08/12/2021), di Perpustakaan IAIMU Pamekasan.


Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa Fakultas Dakwah tersebut merupakan lanjutan workshop serupa yang telah berhasil digelar bulan lalu. Kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen Fakultas Dakwah untuk meningkatkan kegiatan dakwah melalui media dan publikasi ilmiah dibawah koordinasi LDK Fakultas Dakwah IAIMU Pamekasan.


Ahnu Idris, Ketua Perpustakaan IAIMU Pamekasan sekaligus pemateri kegiatan ini, dalam pemaparannya mengaku sangat bersyukur dan mengapresiasi keinginan kuat yang terpancar pada para peserta pelatihan tersebut. Dia berharap, kegiatan yang digagasnya bersama pengelola fakultas dakwah bisa menjadi perantara terwujudnya perkembangan yang sangat pesat.

“Para mahasiswa semakin terlihat bersemangat untuk meluangkan waktu tambahan demi mewujdukan impian mereka untuk berdakwah dibidang penulisan ilmiah. Ini adalah awal yang baik untuk peningkatan kualitas SDM mahasiswa itu sendiri” ucapnya.


Sementara itu, Miftahul Munir selaku Ketua Program Studi Managemen Dakwah IAIMU Pamekasan mengungkapkan sangat mendukung sekali kegiatan tersebut. Beliau berharap kegiatan semacam ini bisa melahirkan para calon penulis handal yang bisa ikut serta mendakwahkan ajaran Islam yang dibawa Rosululloh SAW.


“pelatihan kepenulisan ini sangat positif sekali dan dapat membantu mahasiswa untuk mengasah diri menjadi calon penulis handal dan mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang da’i melalui karya tulis,” tulisnya.


Untuk diketahui, Workshop tersebut fokus membahas sistematika penulisan karya tulis ilmiah dan artikel. Kegiatan ini diinisiasi oleh Fakultas Dakwah yang dimentori oleh Bahrur Rosi, Kaprodi BPI dan Miftahul Munir, Kaprodi MD. (Yus)

Bid’ah, Antara Kejumudan Berfikir Dan “Inovasi” Dalam Beragama

Oleh: Moh. Sofi*

Islam merupakan agama Rahmat yang selalu menghadirkan keteduhan dan solusi bagi kehidupan para pemeluknya. Islam tidak hanya mengurusi tentang perilaku manusia kepada Tuhannya, tapi juga perilaku manusia dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.

Semua itu sudah diatur sedemikian rupa melalui risalah yang dibawa oleh para rasul yang ditugaskan oleh Allah sebagai pencerah atas semua problema kehidupan manusia. Tuntunan tersebut telah tertuang secara komprehensif dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, tanpa terkecuali.

Mustahil, apabila masih ada yang beranggapan bahwa terdapat sesuatu yang tidak ditemukan relevansinya dalam ajaran Alquran ataupun Sunnah Rasulullah. Hanya saja, keterbatasan pengetahuan dan kejumudan berfikir yang membatasi kemurnian akal untuk menerjemahkan Ilham yang telah diwahyukan oleh Tuhan.

Sementara itu, bagi Ahlu Sunnah, inovasi terhadap model dan praktek beragama terus digalakkan untuk memperbesar “peluang” membumikan “isyarah langit” sebagai petunjuk jalan menggapai rahmat-Nya.

Namun sayang, para ustadz Wahabi ternyata memaknai inovasi beragama tersebut sebagai bid’ah. Mereka bereaksi kelewat batas terhadap sebagian praktik agama umat Islam yang mereka anggap salah dan sesat. Selain itu, mereka mengklaim, bahwa hanya mereka yang benar dalam melaksanakan syariat. Seluruh amal ibadah yang mereka lakukan sesuai dengan syariat, sedang ‘sebagian’ amal ibadah kita justru dianggap bid’ah sebab dipandang tidak sesuai dengan manhaj salaf. Lantas, apa sebenarnya arti dari bidah itu sendiri? Apakah semua yang bidah itu sesat?

Padahal, dalam kitab Mafhumul-Bid’ah, terdapat keterangan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, ditinjau secara etimologi dan syara.

Secara etimologi, bid’ah adalah setiap hal baru yang sebelumnya tidak pernah ada, baik berhubungan dengan agama atau pun tidak. Sedangkan secara syara’ bidah adalah setiap hal baru yang hanya terjadi dalam urusan agama, yang menyalahi pada ajaran yang bersifat esensial dalam agama, dan berlawanan dengan nash-nash yang telah ada.

Demikian juga, dalam literatur kitab tauhid, secara global bid’ah terbagi menjadi dua bagian. Adakalanya, bid’ah terpuji (mamduhah) dan ada juga bid’ah tercela (madzmumah). Bahkan, dalam konteks ini pula Imam An-Nawawi mengklasifikasikan bid’ah menjadi lima sebagamana pembagian hukum yang ada di dalam syariat islam. Adakalanya bid’ah wajib, sunah, mubah, makruh, dan bid’ah haram.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI Angkatan 2021

slot