Membiasakan Kebaikan

Oleh: Ali Imron

Kita hidup di dunia ini pastinya sangat butuh kepada sesama. Terkadang ada seseorang berfikir bahwasanya hidup sendiri itu lebih indah daripada hidup bersama. Pemikiran tersebut sangatlah salah, karena kita hidup di dunia ini pasti butuh kepada sesama. Manusia yang ketika hidup tidak berhubungan dengan orang lain, otomatis perjalanan hidupnya tidak akan sempurna.

Maka dengan hubungan tersebut kita banyak tahu tentang apa sebuah kebersamaan terkadang kita tidak memahami apa perjalanan hidup kita, mau melangkah ke mana kita hidup, dan untuk apa kita hidup, maka dengan kita hidup bersama akan tahu semuanya.

Terkadang seseorang meskipun hidup bersama dia seperti tidak hidup bersama karena banyaknya permasalahan-permasalahan baik pemasalahan sosial ataupun permasalahan politik dan lain sebagainya. Maka sangat penting bagi kita sebagai manusia untuk menjalankan hidup bersama dima kita hidup ini sangat membutuh antara satu sama yang lain.

Ketika kita mempunyai suatu permasalahan yang tidak dapat kita selesaikan sendiri maka disitulah kita sangat membutuhkan orang lain untuk membantu menyelesaikan. Dengan bantuan tersebut, tentu sangat mudah bagi kita untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang kita hadapi.

Berbuat baiklah kepada sesama, baik ucapan, perbuatan, dan segala bentuk kebaikan lainnya. Termasuk dari sebab yang dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan dan kegelisahan adalah berbuat baik kepada sesama makhluk. Baik itu dengan ucapan ataupun perbuatan. Dan segala macam bentuk kebaikan. Allah SWT berfirman:

لَا خَيۡرَ فِىۡ كَثِيۡرٍ مِّنۡ نَّجۡوٰٮهُمۡ اِلَّا مَنۡ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوۡ مَعۡرُوۡفٍ اَوۡ اِصۡلَاحٍۢ بَيۡنَ النَّاسِ‌ ؕ وَمَن يَّفۡعَلۡ ذٰ لِكَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰهِ فَسَوۡفَ نُـؤۡتِيۡهِ اَجۡرًا عَظِيۡمًا(سورة النساء:١١٤)
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. (Surat An-nisa Ayat 114)

Demikian juga, Syaikh Abdurahman bin Sa’di berkata dalam tafsirnya: “Di dalam ayat di atas Allah Ta’ala mengabarkan bahwa semua perkara ini semuanya baik, yang semuanya bersumber dariNya, dan kebaikan pasti akan menjadikan baik dan mencegah keburukan.

Seorang mukmin yang mengharap pahala dari Allah Ta’ala, maka ia akan di beri ganjaran yang sangat besar, di antara bentuk dari ganjaran tersebut yaitu hilangnya kesedihan, kesusahan, kekhawatiran dan yang lainnya.

Jadi sangat besar sekali ganjaran bagi orang- orang yang menyebarkan kebaikan kepada sesama makhluk baik itu berupa ucapan ataupun perbuatan dan kebaikan lainnya.

Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya berbuat baik kepada sesama makhluk ataupun menyuruh kebaikan terhadap sesama manusia itulah sangat penting bagi kehidupan kita sebagai seorang dai. Karena kita hidup di dunia sangatlah membutuhkan kepada sesama.

*Penulis adalah mahasiswa Prodi BPI angkatan 2020

Bersih Luar Dalam

Oleh: Fairuz Abadi*

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap manusia pasti lebih menyukai hal-hal yang bersifat bersih dibandingkan hal-hal kotor di muka bumi ini. Karena memang bersih itu indah. Bahkan banyak kita temui di tempat-tempat umum plang² yang bertuliskan “Dilarang membuang sampah sembarangan” lebih-lebih di sekolah-sekolah tingkat bawah seperti TK dan SD pasti akan kita temui dinding atau banner bertuliskan “النظافة من الإيمان (Kebersihan sebagian dari Iman)” Hal ini menunjukkan bahwa para guru dan orang tua menginginkan anak² didiknya sudah terbiasa mempunyai pribadi yang bersih sejak kecil, minimal bersih secara dzohiriyah.

Sehingga mereka akan terus terbiasa tumbuh dan berkembang dengan pribadi yang sudah tertanam sifat bersih, yang kemudian hari akan mereka kembangkan juga menjadi pribadi bersih secara bathiniyah.

Dalam kitab-kitab fiqh “bersih” dibahasakan menjadi “bersuci” (طهارة). Sebagaimana disebutkan bahwa طهارة dalam lughatnya adalah النظافة yang artinya “Bersih”.

Dalam hal ini Imam Al-Ghazali membagi Suci menjadi 4 bagian;

  • Menyucikan anggota tubuh yang bersifat dzohiriyah dari hadats dan najis. Pengertian “bersuci” secara syara’ sangat banyak penafsiran, diantaranya ialah فعل ما تستباح به الصلاة (Mengerjakan sesuatu yang menjadi sebab diperbolehkannya seseorang melaksanakan sholat) baik suci dari hadats maupun suci dari najis, sehingga dengan sebab bersesuci sholat yang kita kerjakan bisa sah.

Cara bersucipun beragam, cara bersuci dari hadats diantaranya yaitu; whudu’ bagi orang yang hanya hadats kecil seperti BAB & BAK. Mandi Besar bagi orang yang hadats besar seperti keluar mani atau haid bagi perempuan. Tayammum, yaitu cara bersuci ketika sedang dalam keadaan kesulitan menemukan air.

Adapun cara bersuci dari najis adalah dengan membersihkan anggota badan dari najis juga tempat sholat, pakaian yang hendak digunakan sholat, serta perlengkapan lain yang digunakan untuk sholat.

  • Menyucikan diri dari perilaku buruk & dosa. Tingkatan ini biasanya muncul dari hati namun pelaksanaannya dilakukan oleh fisik. Seperti mencuri, menfitnah, mengonsumsi narkoba, minum miras, dll. Rosulullah SAW. Bersabda;

إنّ في الجسد مضغة. إذا صلحة صلح الجسد كله، وإذا فسدة فسد الجسد كله. الٓا. وهي؛ القلب.

“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah dirinya. Dan jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah dirinya. Segumpal daging itu adalah Hati.

Sabda nabi diatas, ada kaitannya dengan tingkatan menyucikan diri yang kedua ini. Bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang kita lakukan awal permulaannya ditimbulkan dari hati kita masing-masing, oleh karenanya jika kita ingin menyucikan diri dari keburukan dan kejahatan maka perlulah dimulai dengan membenahi hati kita terlebih dahulu.

  • Membersihkan hati dari akhlak tercela. Yakni membersihkan segala penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, ujub dan semacamnya. Karena memang risalah terutusnya Rasulullah pada kita selaku ummatnya untuk menyempurnakan akhlak, oleh karenanya cara untuk menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut diantaranya dengan meniru perilaku-perilaku baiknya serta menghindari hal-hal yang dapat menjerumuskan pada keburukan tersebut, Sabda beliau;

إنما بعثتُ لأُتمّم مكارم الاخلاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”

  • Membersihkan hati dari selain Alloh. Dalam artian kita betul-betul memasrahkan sepenuhnya diri kita pada Alloh, bergantung hanya kepadanya, serta tidak menyekutukannya alias syirik.

Terdapat 2 hal yang terkandungan dalam 4 tingkatan penyucian diri di atas. pertama تخلية yang artinya membersihkan, kedua تهلية yang artinya menghiasi. Maksudnya adalah dalam pelaksanaan penyucian diri tidak hanya cukup dengan membersihkan diri saja, namun juga perlu menghiasinya. jadi tidak hanya meninggalkan yang munkar seperti tidak mencuri saja, tidak sombong, dan tidak syirik, namun juga harus melaksanakan yang ma’ruf seperti melaksanakan kethoatan dan mendekatkan diri pada Alloh.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi BPI Angkatan 2020

Dakwah Perspektif Surah An-Nahl Ayat 125

Oleh: Moh. Yusril *

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Kata dakwah tentunya sering kita dengar. Termasuk kandungan ayat di atas yaitu lafadz ادع yang merupakan bentuk(shigat) fi’il Amar yang berfungsi perintah. Diambil dari fi’il madhi دعا yang berarti mengajak, menyeru dll. Setelahnya ada kalimat ربك سبيل الى yang berarti Jalan Tuhan (Alloh swt). Bila digabungkan kan mempunyai arti mengajak atau menyeru kepada Jalan Tuhanmu yaitu agama islam.

Dalam berdakwah tentunya seorang da’i tidak hanya menyampaikan kepada mad’u secara sekilas. Tapi seorang Da’i harus memodifikasi apa yang akan disampaikan dengan beberapa metode dakwah.

Dalam ayat yang tersebut di atas, ada tiga metode dakwah yang dapat dilakukan oleh seorang Da’i

الحكمة

dalam tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu jarir berpendapat Al Hikmah diartikan dengan

ما انزله عليه من الكتاب والسنة

 atau sesuatu yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw yaitu Al-Quran dan hadist. Sedangkan dalam tafsir ar-razi, al-hikmah berarti perintah Allah Subhanahu Wa Ta’Ala kepada Nabi SAW untuk ikut kepada agama Nabi Ibrahim AS. Pakar tafsir asal Indonesia yakni M. Quraish Shihab berpendapat, al-hikmah berarti paling utamanya sesuatu, baik pengetahuan atau perbuatan.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, Al Hikmah berarti sesuatu yang utama berupa pengetahuan atau perbuatan sesuai Al-Quran dan Sunnah Rasul. Dalam hal ini dakwah bil Hikmah berarti mengajak kepada mad’u dengan cara menempatkan pengetahuan dan perbuatan yang baik atau secara sederhana Al Hikmah berarti dakwah secara Bil hal dengan memberi contoh (teladan) yang baik secara langsung dalam segala hal. Cara ini cukup efektif karena sama sekali tidak ada paksaan sehingga mad’u dapat terpengaruh dengan sendirinya.

موعظة الحسنة

 موعظة mempunyai arti peringatan, nasehat, dan pelajaran. Secara terminologi berarti mengajak dengan cara memberi peringatan. secara redaksi kata موعظة disifati dengan kata الحسنة yang berarti mengajak harus dilakukan dengan cara yang baik yaitu dengan kata-kata yang halus dan bahasa yang sopan.

Cara ini akan efektif apabila seorang Dai dapat menyentuh hatinya dengan uraian kata-kata yang halus. Dan menurut bentuknya dakwah dengan mauidatul hasanah ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu lewat audio dan karya tulis.

وجادلهم بالتي هي احسن

Dalam salah satu pendapat disebutkan bahwa جادلهم terambil dari kata جادل yang berarti diskusi atau bukti-bukti yang dapat mematahkan dalil-dalil lawan. Menurut redaksi kata jadil disifati dengan kata احسن   yang menunjukkan bahwa jidal harus dilakukan dengan cara yang terbaik tidak boleh mengedepankan ego.

Karena itu M Quraish Shihab mengartikan jidal dengan  perdebatan atau diskusi yang dilakukan dengan cara efektif yaitu menggunakan Logika dan retorika yang halus.

Pendapat diatas mengartikan bahwa jidal dilakukan apabila ada bantahan dari mad’u tentang suatu hal. Kemudian da’i mendatangkan dalil-dalil yang diuraikan dengan logika yang halus. Sebagaimana dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa AS. Kepada raja firaun.

Dari pembahasan diatas bisa disimpulkan, terdapat 3 metode dakwah yang dapat dilakukan oleh seorang da’i dalam ekspansinya. Yaitu bil-Hikmah, bil-Mauidatul hasanah, dan bil-jiidal. Dengan tujuan agar dakwah yang dilakukan dapat diterima dengan baik dan hasil yang memuaskan.

Wallohu bissowab

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Managemen Dakwah angkatan 2019

Memposisikan Perbedaan dalam Islam
Oleh: Moh. Toyyib

Islam adalah agama elastis sesuai situasi dan kondisinya.peraturan yang tidak paten dengan tujuan Mudah dikerjakan oleh pengikutnya. Alloh sebagai Penguasa selalu mempermudah hambanya dalam melakukan segala perintahnya, tidak pernah ditemukan bahwa Alloh menyulitkan hambanya dengan segala kebijakan yang diberikan.

Alloh tidak ingin membebani pengikutnya dengan suatu hal yang menurut mereka tidak mampu untuk dikerjakan. Sebagaimana termaktub dalam kitab Suci Al Qur’an


Allah tidak memaksa sesuatu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya”, (QS. Al-Baqoroh: 286)

Jika kita telaah bersama Alloh dengan sifat ar Rohman Ar Rohimnya menghendaki kemudahan dengan adanya dispensasi/Rukhsoh dari ketentuan asalanya. Dalam situasi dan kondisi yang tidak Dzarurot kita dituntut untuk mengerjakan sesuai ketentuan asalnya. Beda lagi kalau dalam posisi Dzarurot maka Alloh meberikan dispensasi atau Rukhsoh. Begitulah cara Alloh memaklumi hambanya agar tidak terjebak pada peraturan tanpa solusi.

Terbukti Allah mempermudah dalam semua urusan hambanya termaktub dalam Al quran surah Al Baqoroh

Allah memudahkan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Karena itu, tidak ada dalam kebijakannya di luar kemampuan pengikutnya.

Banyak contoh yang bisa kita lihat, sebagaimana yang kita ketahui. Sholat itu harus dikerjakan berdiri tegak, tapi peraturan asal tersebut gugur bagi orang yang tidak mampu berdiri maka ia diberi kemudahan untuk mengerjakannya dengan duduk, berbaring atau bahkan hanya berisyarat.

Kemudahan Allah Swt berupa keragaman pandangan para ulama dalam masalah fikih. Dua ulama saja misalnya, sudah sangat mungkin pandangan keagamaannya tidak seragam, apalagi banyak ulama. Bahkan perbedaan pandangan itu sejatinya tidak hanya terjadi di kalangan para ulama, tapi juga di kalangan para shahabat sendiri dan disaksikan Kanjeng Nabi Muhamad secara langsung.

Di kalangan para imam fikih, misalnya, pandangan Imam Malik bin Anas (w. 179 H) selaku guru, dengan pandangan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) selaku murid, itu seringkali berbeda. Pandangan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i selaku guru dan pandangan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) selaku murid, juga kerapkali tidak sejalan. Bahkan dalam internal mazhab saja, acap kali antara ulama yang satu dengan yang lain, juga berbeda.

Itulah hikmah perbedaan, sebagai rahmat bagi umat. Melalui keragaman, umat Islam bisa menyeleksi dan memilih mana pandangan yang sesuai kebutuhan dirinya, masyarakatnya dan konteks sosialnya, sehingga ajaran Islam benar-benar shalih li kulli zaman wa makan

Inilah Ilmu Allah

Oleh: Moh. Fahmi*


Sebagai Dzat yang menciptakan, memberikan ilmu, dan mengatur seluruh alam raya, tentunya Allah mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi di alam raya ini. Semua yang diketahui manusia, sudah pasti diketahui lebih dahulu oleh Allah SWT., karena yang menciptakan tentu lebih dahulu ( qadim ) dari yang diciptakan. Tetapi tidak sebaliknya, apa yang diketahui Allah swt., belum tentu dapat dikenali–atau dipamerkan–oleh makhluk-Nya.

Ketika seseorang membicarakan tentang keluasan ilmu Allah SWT., tak jarang kita mendengar sebuah gambaran bahwa, luasnya ilmu Allah itu tidak akan bisa habis meskipun dituliskan dengan tinta yang kuantitasnya sebanyak seluruh lautan. Bahkan meski telah didatangkan berulang kali tinta sebanyak lautan itu, tidak akan cukup untuk menuliskan seluruh ilmu Allah Swt.

Gambaran tersebut sejatinya merupakan gambaran yang diberikan oleh Allah sendiri, yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 109.

Berikut kutipan ayat yang dimaksud:
ل لَّوۡ انَ لۡبَحۡرُ ادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ لَنَفِدَ لۡبَحۡرُ لَ لِمَـٰتُ لَوۡ ا لِهِۦ ا
Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pastilah lautan lautan itu, maka pasti habis lautan Tuhanku, maka pasti lautan lautan itu selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) “.

Bahkan, persis di salah satu anggota badan sepesang kita, yakni mata dan telinga merupakan indra yang paling dominan untuk menangkap ilmu-ilmu tersebut.

Allah Swt menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna dari makhluk lain. Allah membekali manusia dengan indera dan dilengkapi dengan akal, bagian yang tidak diberikan oleh Allah pada makhluk lainnya. Ada dua indera anugerah Allah yang disinggung dalam Alquran sebagai bekal manusia sejak lahir, yaitu pendengaran dan penglihatan.

Lantas, apa isyarat yang ada di balik informasi penyebutan pendengaran dan penglihatan dalam Alquran tersebut? Allah Swt Berfirman,
وَاللهُ اَخْرَجَ كُمْ مِّنْ بُطُوْنِ اُمَّطهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًاۚ وَّجَعَلَ لَكُمْ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS.An-Nahl:78)

Oleh karna kita patut mensyukuri apa apa yang telah diberikan oleh-Nya,hingga kita termasuk orang yang berada dijalan orang orang yang diberikan anugerah yang mulia.

Komunikasi yang sekarang kita gunakan dengan sebaik baiknya,namun tanpa kita sadari bahwa sebenarnya mata dan kuping kita seakan bersifat manja karna dengan mudahnya ia menangkap Sesuatu yang ingin ia ketahui tanpa melalui proses yang lebih rumit.

*Penulis adalah mahasiswa BPI angkatan 2019

Tahajud-kah Kita?

Oleh: Moh. Imron*

Setiap manusia pasti memiliki kewajiban, baik kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT ataupun kewajiban yang diberikan oleh sebuah negara yang harus dilakukannya. Kewajiban tersebut harus kita laksanakan sebagaimana mestinya karena kewajiban tersebut adalah perintah atau aturan langsung yang diberikan oleh Allah SWT untuk dikerjakan kita sebagai hamba-Nya.

Sayangnya, terkadang seseorang lalai terhadap apa yang menjadi perintah ataupun kewajibannya, baik itu berupa kewajiban yang mutlak ataupun kewajiban yang hanya dilakukan semestinya saja. Seperti yang Allah telah perintahkan yaitu sholat.

Terkadang manusia malas untuk melakukan kewajiban tersebut. Padahal, sudah ditetapkan yang diwajibkan langsung oleh Allah SWT kepada kita untuk melakukannya. Demikian juga, selain kita malas untuk melakukan kewajiban tersebut, kadang kita juga malas untuk melakukan sesuatu yang sunnah. Contohnya yaitu seperti sholat dhuha ataupun sholat tahajud dan sholat sunah lainnya.

Sholat wajib saja kita terkadang malas-malasan untuk melakukannya apalagi pekerjaan yang hanya perintah sunah-sunah saja yang seperti sholat yang disunnahkan oleh Allah SWT. Maka dengan banyaknya kewajiban ataupun perintah yang tuhan perintahkan kepada kita biasanya kita menganggap sesuatu yang biasa saja. Padahal, dibalik perintah tuhan tersebut mempunyai faidah dan keutamaan tertentu.

Diantaranya sholat tahajud yang mungkin bagi sebagian kita tidak asing lagi. Karena pastinya di kalangan pesantren itu biasanya sudah jadi kebiasaan.

Sholat secara bahasa adalah doa. Sedangkan sholat secara syara’ yaitu, sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Rofi’i adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang diawali takbiratul ihram dan diakhiri salam dan yang disertai syarat-syarat tertentu.

Sholat merupakan tiang bagi agama di mana sabda nabi shallallahu alaihi wasallam,”sholat adalah tiang agama, dan siapa yang mendirikanya maka sungguh dia adalah seorang yang menegakkan agama dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia adalah seseorang yang merobohkan agama”

Sementara itu, sholat tahajud merupakan sholat sunah yang dikerjakan pada malam hari. sholat tersebut sangat dianjurkan bagi kita untuk melakukannya oleh Rasulullah SAW karena banyak keajaiban yang diperoleh dari sholat tersebut.

Rosululloh SAW bersabda.
“Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Allah berfirman: siapa yang berdoa kepadaku akan ku ijabahi doanya. siapa yang meminta kepadaku akan kuberi dia,Dan siapa yang meminta ampunan kepadaku akan ku ampuni dia,” (HR Bukhari Muslim)

Kebaikan Allah terdapat pada sholat tahajud tersebut. Demikian juga, sholat tahajud merupakan tiket kepada kita untuk masuk surganya Allah SWT.

Abdullah Ibn Muslin berkata: kalimat yang kudengar dari Rasulullah Saw pada saat itu adalah, hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambungkan dah silaturahmi, tegakkan lah salat malam saat lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”(HR. Ibnu Majah).

Terkadang kita meremehkan suatu perkara yang kecil dimana perkara tersebut banyak faidahnya bagi kita. Semoga kita senantiasa berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi.

*Penulis adalah mahasiswa BPI angkatan 2020

“Ngaji” ke Google, Cukupkah?

Oleh: Moh. Toyyib*

Semua orang mukallaf memiliki kewajiban untuk belajar ilmu agama sebagai bekal melaksanakan perintah Allah demi mencapai kehidupan yang bahagia, dunia maupun akhirat. Ilmu syarat mutlak Bagi siapapun yang menghendaki kehidupan sebagaimana telah digariskan oleh Allah yang termaktub dalam kalam-Nya dan ajaran yang disabdakan Nabi-Nya.


Namun demikian, ilmu agama tidak bisa diperoleh dengan hanya membaca buku atau kitab. Akan tetapi harus talaqqi, belajar secara langsung kepada para ulama yang dipercaya. Hal ini seperti yang menjadi tradisi di dunia pesantren. Al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi berkata:
.
‎لا العلم لا اه العلماء
“Ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dari lidah para ulama”

Sebagian ulama salaf berkata:
‎الذي يأخذ الحديث من الكتب يسمى صحفيا، والذي يأخذ القرآن من المصحف يسمى مصحفيا ولا يسمى قارئا
”Orang yang memperoleh hadits dari buku (tanpa berguru) disebut shahafi (pembuka buku). Orang yang mengambil al-Quran dari mushaf, disebut mushafi (pembuka mushaf), dan tidak disebut qari’ (pembaca al-Quran)”.

Mengapa dalam ilmu agama harus belajar melalui seorang guru, dan tidak cukup secara otodidak? Hal ini didasarkan pada hadits-hadits berikut ini.


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
‎يا أيها الناس تعلموا فإنما العلم بالتعلم والفقه بالتفقه.
“Wahai manusia, belajarlah ilmu. Karena sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar dan pengetahuan agama hanya diperoleh dengan belajar melalui guru”. (Hadits hasan).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

‎من ال القرآن برأيه اب فقد
“Barangsiapa berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya sendiri, lalu pendapat itu benar, maka ia telah benar-benar keliru”.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

‎من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka”. (Hadits shahih).

Hadits-hadits di atas memberikan pengertian keharusan berguru dalam ilmu agama. Bukan dipelajari secara otodidak dari buku dan Google.


Berdasarkan paparan di atas, orang yang belajar ilmu agama secara otodidak atau belajar kepada kaum orientalis tidak bisa dikatakan sebagai orang yang alim, akan tetapi disebut sebagai bahits, peneliti dan pengkaji. Orang semacam ini tidak boleh menjadi rujukan dalam agama.


Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Alumni BPI angkatan 2017

Substansi Al-Quran Dalam Dinamika kehidupan

Oleh: Khozairi Taufiq, S. Hi*

Kreasi manusia sebagai peejawantahan potensi akal terbukti melahirkan karya fenomenal baru secara dinamis perlu dicermati secara normatif dengan memaknai teks secara substantif dan memahami Alquran secara kontekstual, agar dapat menemukan hukum yang valid dan relevan terhadap mas’alatul far’iyah yang berkembang sebagai konsekuensi logis yang timbul kemudian.

Memahami agama lewat teks secara scriptural berakibat umat sering kali tidak sampai pada maksud tuhan yang sebenarnya, sebab Alquran bersifat universal dan banyak mengandung makna inplisit yang tak terungkap. Akibat lebih dekatnya adalah diantara umat saling menyalahkan dan merasa paling benar terhadap apa yang ia baca dan pahami.


Padahal sesungguhnya masih banyak makna-makna tersembunyi yang harus digali dan diungkapkan. Mengingat Alquran sendiri diturunkan secara berangsur-angsur atau berkala, sehingga sangat mungkin banyak nilai- nilai tercecer dikarenakan masih melihat kemampuan manusia waktu itu.

Apalagi cara dan kemauan Alquran dalam merubah komunitas umat bersifat evolutif, berkala dan berlanjut. Tidak terhenti walaupun Nabi Muhammad saw telah meningal. Tugas itu harus terus dijalankan oleh para pewaris beliau yaitu para ilmuan dan cendikiawan.


Menurut Abdallah Darraz (1960), Apabila anda membaca Alquran, maknanya akan jelas dihadapan anda. Tapi jika anda membacanya sekali lagi, anda akan menemukan pula makna- makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya. Sampal- sampai anda dapat menemukan kata-kata atau kalimat yang punya arti mungkin benar. Ayat dan kalimat Alquran bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut yang lainnya. Dan tidak mustahil bila anda mempersilahkan orang lain melihatnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang anda lihat dan anda pahami.

Kehadiran Alquran di tengah umat Islam bagaikan “representasi” dari kehadiran Allah dan Rasulnya untuk selalu menyertai mereka. Ayat demi ayat yang disampaikan Rasulullah tidak sekedar dipahami dari segi gramatikal dan keindahan bahasanya, melainkan lebih dalam dan lebih kompleks lagi adalah pengamalannya dalam pribadi-pribadi orang mukmin serta mendialogkan dengan problem nyata dan langsung.


Berbagai bentuk perintah dan larangan dalam Alquran mempunyai implikasi hukum serta tindakan praksis bagi umat Islam. Sehingga dengan begitu, praktis Alquran yang bagaikan lentera bagi orang buta yang berjalan meraba raba tiba-tiba diperlihatkan jalan yang terang benderang.

Pendeknya di masa Rasulullah hidup, ayat-ayat yang diwahyukan selalu menimbulkan dinamika wacana dalam masyarakat. Ayat-ayatnya selalu terlibat dalam sebuah dialog kehidupan secara dinamis dan terbuka (demokratis).

Ayat demi ayat, surat demi surat oleh para sahabat nabi ditafsirkan dengan ayat- ayat kehidupan dan ayat-ayat kosmologis, karena antara Alquran yang tertulis dan terucapkan dan ayat-ayat yang terhampar dalam jagat raya serta ayat-ayat yang terlukis dalam diri manusia, satu sama lain saling menafsirakan dan memberi informasi

Interpretasi dengan ijtihad (AL Tafsir Birro’yi) bisa saja dilakukan asalkan berpijak pada asas yang benar dan kaidah yang baku, tidak hanya hasrat dan opini semata. Dalam hal ini Rasulullah saw memberi warning melalui hadits riwayat Abu Daud.
من قال في القران برعيه فاصاب فقد اخطا
Artinya: Barang siapa yang berkata didalam Alquran dengan pendapatnya sendiri lalu benar, maka dia telah keliru.

Interpretasi teks tidak bisa hanya berdasarkan asumsi dan spekulasi, tapi harus cocok dengan kehendak syari’, jauh dari bodoh dan sesat, mengikuti Qowa id al- Lughat al- Arabiah, berpijak pada sistematika bahasa yang baik dalam memahami nash Alquran, dan bersifat ilmiah dan harus didalami dengan beberapa ilmu pendukung lainnya.

Alhasil, jangan sampai ada tendensi pragmatis dan ambisi sesaat yang mengarah pada justifikasi sesuatu yang salah menurut substansi teks dan menjual ayat Allah yang tidak ternilai harganya.

*Penulis adalah alumni IAI Miftahul Ulum Pamekasan Angkatan 2002

Potret Sederhana Rintangan Dakwah Rosululloh SAW

Oleh: Bahrur Rosi

Setiap manusia memiliki garis nasibnya sendiri dengan tingkat kesabaran dan rasa syukur yang beragam atas semua yang dialami. Semakin tinggi nilainya dihadapan Alloh SWT, semakin besar pula pertanyaan yang diberikan kepadanya. Seperti pepatah, “semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar angin menerpanya”.

Apalagi manusia yang bergelar da’i, sudah barang tentu rintangan akan datang silih berganti dalam berbagai rupa. Namun demikian, rintangan terberat adalah ketika datang dari internal organisasi, keluarga dan pribadi da’i itu sendiri. Asumsi tersebut didasarkan pada potret perjalanan dakwah Rosululloh SAW dan nabi-nabi sebelumnya.

Sebut saja, Nabi Nuh AS yang harus diingkari oleh anaknya sendiri. Nabi Ibrahim AS, beliau harus menjadi seorang putra pengrajin berhala. Nabi Luth dikhianati ibu dari anak-anaknya sendiri. Demikian pula, Rosululloh SAW harus berhadapan dengan paman-pamannya sendiri yang berperan sangat penting dalam perjalanan hidup Baginda yang sebatang kara.

Sejarah mencatat, Rasulullah sangat dimusuhi kelompok-kelompok kafir Quraisy yang notabene-nya adalah kerabat dekat dan masih se-suku dengan beliau.Rintangan perjalanan dakwah tersebut sudah menjadi sunnatulloh yang dihadapi orang-orang yang telah dipilih Alloh untuk membumikan ajaran-Nya. Tentu, satu-satunya harapan yang bisa ditunggu da’i hanyalah pertolongan dari Alloh SWT.

Namun demikian, ma’unah tersebut harus dijemput dengan kematangan diri dari berbagai segi. Da’i harus serba ideal dari berbagai sisi, finansial, keilmuan, dukungan stakeholder dan hal-hal lain yang mampu mendukung penampilan da’i sebagai seorang yang “hampir sempurna”.

Sunnatulloh semacam ini harus dengan dijemput dengan sunnatulloh yang lain sebagai penyeimbang untuk menghidupkan peluang dakwah sebesar-besarnya. Karena, takdir manusia bukanlah suatu yang harus diratapi, tapi harus dicarikan alternatif dari formulasi Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh SAW.

Rosululloh SAW telah memberikan teladan yang jelas bagaimana beliau bertahan dari serangan “orang-orang sekitarnya”.

Diantaranya, mempererat hubungan dengan orang yang memiliki kesamaan visi dengan dakwah yang diembannya. Hal tersebut tampak jelas dari cara Rosululloh SAW memperlakukan dan memposisikan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabatnya yang lain sebagai “penolong utama” dakwah yang dilakukan beliau.

Demikian pula, membangun komunitas baru sebagai dasar perjuangan bisa menjadi alternatif tambahan manakala langkah pertama belum maksimal. Hal tersebut terlihat dari perjalanan hijrah beliau ke kota Madinah yang kelak menjadi pusat perjuangan dakwah Baginda nabi.

Solusi sebagaimana dimaksud, sangat mungkin dipraktekkan di era milenial seperti saat ini. Membangun solidaritas dengan organisasi lain yang memiliki visi yang sama dengan model dakwah yang dilakukan, bisa menjadi solusi kreatif demi eksistensi dakwah tersebut manakala tidak menemukan “penggemar” dalam komunitasnya sendiri.

Namun demikian, tulisan singkat ini tidak akan mampu menampilkan secara utuh potret dakwah Rosululloh SAW. Pasalnya, perjalanan dakwah bukanlah suatu yang hanya bisa dilihat sebagai “happy ending” semata, tapi juga proses “kesana-nya” yang perlu mendapat perhatian khusus sebagai sebuah referensi yang utuh.

Tugas da’i hanya menyampaikan risalah, urusan berhasil dan tidaknya, mutlak hak prerogatif Alloh SWT. Alhasil, da’i harus “sedia payung sebelum hujan” karena dakwah merupakan suatu yang sangat “seksi” dan pasti mengundang “prilaku lebay” orang-orang yang merasa terusik eksistensinya.

Membangun Diri, Negeri dan Peradaban

Oleh: Yusril Mahendra*

Manusia disebut dengan insan karena memang eksistensinya ia tidak akan terhindar dari sifat yang sudah kodratnya, yaitu salah dan lupa. Karena itu mereka butuh orang lain untuk mengingatkan dan mengajaknya bila ia terperangkap oleh keduanya. Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan dengan “membangun”.

Dalam KBBI membangun merupakan lawan kata dari merobohkan yang berarti meningkatkan atau mengembangkan sedangkan menurut etimologinya membangun adalah proses yang dapat menciptakan pertumbuhan, kemajuan, perubahan.Tidak hanya itu P. Siagian menyatakan bahwa membangun adalah kegiatan meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skill) yang dibutuhkan dalam rutinitas yang sedang di jalani.

Dari pernyataan di atas dapat diartikan bahwa membangun adalah suatu kegiatan yang dapat memberi efek positif. Seperti halnya terciptanya kemajuan dari segi pengetahuan dan keahlian baik bagi individu atau suatu organisasi.

Membangun berarti seseorang menyusun kembali energi energi yang sebelumnya telah hilang. dengan cara memberikan motivasi yang merupakan salah satu cara ampuh untuk membangkitkan kembali semangat menggali potensi, mengingatkan kembali pada apa yang sebelumnya dicita-citakan.

Semua itu memberikan asumsi bahwa kehidupan butuh yang namanya kesabaran. Mendukung mereka untuk terus mencoba tanpa ada rasa putus asa. Kesemuanya itu merupakan kunci mencapai kesuksesan.

Jika dilihat dari sejarah bagaimana kesabaran Nabi Ayyub dalam penjuangan menghadapi penyakit yang dideritanya hingga diberikan kemudahan. Bagaimana seorang Thomas Alva Edison dengan motivasi dan semangat yang luar biasa hingga dalam eksperimennya berhasil menemukan lampu pijar yang sangat bermanfaat bagi semua orang.

Membangun dapat dikategorikan kedalam tiga tema besar yang bisa diuraikan sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan masing-masing individu.

1. Membangun Diri

Hal ini biasa dengan istilah capacity building yang dikenal untuk membangun dan meningkatkan kemampuan individu dalam menyelesaikan tanggung jawab dari apa yang dikerjakan atau kewajiban yang sedang dijalani, seperti pendidikan, dakwah dan lain sebagainya.

2. Membangun Negeri

ini dapat digunakan untuk meningkatkan istilah kesadaran individu sebagai bagian dari suatu bangsa. Hal tersebut menuntut individu untuk benar-benar memahami kebangsaan dan mempraktekkan pemahamannya secara utuh dengan apa yang menjadi semboyan dari bangsanya sendiri. Seperti semboyan “bhinneka tunggal Ika” di Indonesia.

3. Membangun Peradaban

Istilah ini mencakup ruang lingkup yang lebih besar dan lebih umum dari dua lingkup pembahasan sebelumnya. Pasalnya, membangun peradaban merupakan suatu proses terintegrasi dari dari berbagai “pembangunan” diatas. Peradaban merupakan gabungan segenap elemen yang begitu besar dengan segala kompleksitasnya.

Maka dari itulah membangun adalah sesuatu yang sangat urgent untuk mewujudkan kesejahteraan diri, negeri dan peradaban.

*Penulis adalah mahasiswa Prodi MD angkatan 2019

slot